Showing posts with label Gojukai. Show all posts
Showing posts with label Gojukai. Show all posts

Friday, 23 September 2016

DOJO GOJUKAN SETYO HARYONO; PENGGALAN KISAH PADA TAPAK YANG TERTINGGAL



Kisah ini bermula pada hari minggu, 10 Agustus 1997 (hampir 20 tahun yang lalu). Saat itu saya bersiap-siap berangkat menuju dojo, tepatnya di Dojo Gojukan Setyo Haryono.  Seragam karate yang selalu tersusun ala shikaku no gi pun saya masukkan dengan rapi kedalam tas lengkap dengan sabuk. Hari itu, saya bukan akan mengikuti latihan gabungan sebagaimana biasanya, namun akan mengikuti satu tahapan kegiatan yakni Ujian/Penataran Instruktur Karate hari ke-dua dari Kyoshi Shihan Achmad Ali, mendiang. 
            Dengan menaiki sepeda sekitar 20 menit, saya pun tiba di depan dojo. Setelah memarkir sepeda saya diluar pagar dan meletakkan alas kaki, saya lantas memberi hormat dojo seperti biasa tepat di pintu masuk dojo yang letaknya di sebelah kanan. Di dalam ternyata  sudah ada beberapa senior Goju lainnya, dan dengan serta merta saya pun lantas menghampiri mereka satu per satu seraya memberi hormat. (Di Dojo Gojukan Setyo Haryono, kami memang dididik keras untuk selalu menghargai/menghormati etika dan tata tertib selama di dalam dojo. Aturan hormat misalnya, seorang kohai (sabuk coklat kebawah), wajib hukumnya melakukan tradisi penghormatan kepada seorang senpai/yudansha, dan seterusnya, seorang senpai pun wajib melakukan tradisi penghormatan kepada seorang yudansha diatasnya. Artinya jika  ada 20 orang disitu berada diatas tingkatan Anda/berdasarkan kesenioritasannya, maka Anda wajib mendatangi mereka satu demi satu untuk melakukan tradisi penghormatan. Saat itu pun saya tidak pernah mendengar istilah panggilan “pai” untuk menyapa seorang sempai, dan “sei” untuk menyapa seorang sensei. Cara duduk dalam dojo, kalau bukan seiza, ya harus dengan anza (bersila) jika lagi “santai”. Jadi Anda jangan berpikir untuk sekalipun melakukan kegiatan lain yang dianggap tidak perlu seperti berdiri seenaknya, berbisik-bisik apalagi bercengkerama dengan leluasa dan hal-hal lain yang dianggap “mengotori” tradisi, etika, dan tata krama selama di dalam dojo. Yang ada dalam Dojo Gojukan Setyo Haryono setahu saya adalah terdapatnya karateka-karateka yang sikap dan bersikap ksatria dimana kita betul-betul dijadikan menjadi sosok pria terhormat dalam mempelajari dengan rinci beragam makna, prinsip dan filosofi dari Goju Ryu itu. 
           
Setelah melakukan junbi undo, kemudian kami yang berjumlah puluhan itu pun langsung diuji dengan beragam materi. Kyoshi Shihan Achmad Ali, almarhum begitu jeli memantau gerakan gerakan kami dan memang beliau saat itu turun langsung dalam memberikan arahan termasuk ikut sebagai sparring partner yakuzoku kumite satu per satu peserta ujian. Beliau  terkadang dapat melihat kesalahan dalam melakukan teknik  sekecil apapun pada peserta di barisan paling belakang sekalipun. (Memang beliau kami kenal sebagai sosok pribadi yang sangat teliti, perihal sekecil apapun di dalam dojo beliau perhatikan. Pernah dalam satu sesi latihan beliau mendapatkan ada rembesan air mengalir sedikit dari sela-sela tembok sebelah kanan dojo yang kami sendiri tidak memperhatikannya. Beliau pada saat itu, saya masih ingat, dengan sigap langsung memerintahkan seorang diantara kami untuk mencari tahu penyebabnya, kemudian membetulkannya, baru setelah itu kami melanjutkan latihan lagi…
            Hari menjelang sore, cermin besar di  depan saya jadi saksi bisu betapa bersemangatnya saat itu. Dan pada akhirnya, setelah berkisah sedikit serta memberikan arahan-arahan termasuk pemahaman tentang nilai-nilai budo, beliau lalu memberikan ijazah sebagai bukti kelulusan dan keikutsertaan kami. Sertifikat Instruktur dengan Nomor; 022/97 pun resmi berada di dalam genggaman saya dan setelah mengikuti upacara tradisi, saya pun melangkahkan kaki keluar, setelah sebelumnya melakukan penhormatan pada dojo.
            Hari itu pula yang menjadi hari terakhir saya berada di Dojo Gojukan Setyo Haryono sebab setelah itu di awal tahun 1998, saya berangkat ke Kalimantan Timur dan bertemu dengan rekan-rekan Goju disana yang kemudian bersama-sama mengembangkan dan turut membina Gojukai disana hingga sekitar tahun 2005. Kemudian di awal tahun 2010 menuju Sorong, Papua Barat hingga sekarang.
           
Akhirnya harapan saya pribadi bahwa semoga Dojo Gojukan Setyo Haryono tetap pada “kesakralannya” hingga selalu menciptakan dan menjadi rumah bagi karateka-karateka  yang berjiwa ksatria yang sesungguhnya, yang tetap menjunjung tinggi nama baik perguruan dengan tujuan-tujuan mulianya yang beralaskan rasa syukur kepada Sang Khalik. 

 Onegaishimasu Kyoshi Shihan Prof. DR. Achmad Ali, SH., MH. 
Damailah dalam tidur panjangmu..... 


Hezron Tandungan - Budoka, Praktisi Jalan Karate

Saturday, 3 September 2016

ASPEK - ASPEK FILOSOFI GOJU-RYU



Satu dari 10 aspek latihan Goju-Ryu (selain dari aspek Sejarah dan Tradisi, Junbi Undo, Kihon,  Kata, Bunkai, Goshin, Kumite, Ibuki, dan Hojo Undo) adalah aspek Filosofi.
Berikut Aspek-Aspek Filosofi Goju-Ryu berdasarkan rangkuman tulisan mendiang Kyoshi Shihan Prof. DR. Achmad Ali, SH.,MH di dalam buku PRINSIP-PRINSIP POKOK KARATE-DO (ditulis sekitar tahun 1984).


A. Karate Adalah Filsafat Seorang Pecinta Damai
            Di dalam karate ada sebuah prinsip pokok yang harus mendasari  gerakan-gerakan karate maupun sikap dan cara berpikir karatekanya. Prinsip pokok itu adalah karate ni sente nashi. Ini berarti bahwa karate tidak pernah membuat serangan pertama, tidak pernah menyerang lebih dahulu. Ini pula yang menyebabkan semua jenis kata dalam karate dimulai dengan serangan defensif atau tangkisan (dalam karate Goju dimulai dengan joi, yang diawali oleh gerakan tangkisan bawah atau kogan uke, atau juji (jiuji) uke, atau gedan juji uke, atau kaishu gedan juji uke). Tujuan damai haruslah tetap dipertahankan.
           
Karate Goju memancarkan kedamaian itu dari dua unsur yang terkandung di dalamnya, unsur keras (go) dan unsur lunak (ju). Orang selalu memperhadapkan sebagai dua hal yang berlawanan antara kekerasan dan kelembutan padahal keduanya  tidak selalu bertentangan. Antara kekerasan dan kelembutan atau kelunakan dapat merupakan satu perpaduan yang manis dan harmonis yang dapat menciptakan perdamaian.

            Tujuan damai karate tampak pula dari tradisi saling hormat sebelum bertarung. Lawan dalam karate tetap wajib dihormati dan diperlakukan secara terhormat dan ksatria. Sebab seorang karateka tidak akan bertarung untuk ego pribadi atau untuk menghancurkan lawan. Seorang karateka sejati barulah akan berkelahi menggunakan ilmu karatenya jika terpaksa ubtuk menciptakan perdamaian. Sebab dalam keadaan tertentu, perdamaian barulah dapat terwujud dalam peperangan.



B. Menguasai Diri Lewat Tempaan Penderitaan
            Rasa sakit yang disadari adalah satu bentuk kenikmatan. Istilah ini bagi orang yang berpikir sederhana tentunya sukar diterima, karena sukar untuk dimengerti olehnya. Tetapi jika merenunginya lebih mendalam, maka pemeo ini memang tepat. Rasa sakit adalah salah satu jenis penderitaan. Tetapi penderitaan yang dialami seseorang, jika diterima secara positif, akan mampu menempa mental dan kepribadian seseorang itu menjadi kepribadian luhur dan mampu untuk menguasai diri sendiri secara sempurna.
           
Shihan Achmad Ali bersama sensei Winner Sitorus, Makassar
Di dalam latihan karate, rasa sakit memang sulit untuk dihindari. Bahkan tidaklah berlebihan jika dikatakan oleh Kyoshi Shihan Prof. DR. Achmad Ali, SH.,MH dalam beberapa bukunya berani mengatakan bahwa rasa sakit dalam latihan karate adalah bumbu yang mempersedap karate itu secara keseluruhan.
            Karate bukanlah ilmu bela diri yang mampu dilatih oleh orang-orang yang bermental manja. Disiplin yang keras dan latihan yang sangat banyak dan melelahkan dalam karate, menyebabkan bahwa orang-orang yang mampu untuk menjadi karateka senior hanyalah orang-orang yang benar-benar memiliki mental baja. Dan karena itu pula, guru-guru karate yang tidak keras dan tidak berdisiplin tinggi dalam membina murid-muridnya, lebih baik ganti tugas menjadi guru tari.
            Melalui penderitaan, manusia itu akan lebih mengenal dirinya sendiri. Tidak ada hal yang lebih utama dan “mengenal diri” sendiri. Setelah dapat mengenal apa yang kita inginkan dan menyingkirkan apa yang tidak kita inginkan, kita akan mengetahui bagaimana caranya untuk hidup tenteram bersamanya (bersama “diri” kita itu).
            Secara psikologis, suatu kejutan dapat saja menimpa seseorang pada masa hidupnya dan mungkin akan menyebabkan merasa bahwa jalan di hadapannya terhalang, bahwa kehidupan itu sendiri merupakan sel penjara dengan pintu yang selalu terkunci.
           
Hezron Tandungan, Kalimantan 1999
Tetapi dari penderitaan dan mengenal diri sendiri, kita akan mengetahui bahwa ada lebih dari satu kunci untuk membuka pintu itu. Pertama, kita harus mengetahui sumber kesulitannya dengan jelas. Kedua, kita harus memiliki keyakinan. Dalam kaitannya dengan agama yang kita anut, kita harus memiliki iman. Iman dan keyakinan disini berarti bahwa kita harus menganggap segala musibah hanya sebagai penderitaan yang telah ditentukan oleh nasib, dan harus kita tanggung. Dari hal ini timbullah satu usaha yang sengaja diambil untuk melawan akibat-akibatnya. Tidak boleh ada kesulitan satupun yang dianggap tidak dapat diatasi. Untuk setiap problem apapun selalu ada cara penyelesaiannya. Kehidupan ini memang merupakan kumpulan problem yang membutuhkan pemecahan.
            Kasih sayang adalah sumber kebahagiaan. Karena kita mengasihi dan menyayanginya (latihan karate itu), menyebabkan rasa sakit itupun merupakan kebahagiaan bagi kita. Karena rasa sayang dan cinta kita pada putra kita misalnya, menyebebkan segala penderitaan kita untuk mengasuh dan membesarkannya adalah kebahagiaan buat diri kita.
            Penghargaan terhadap keberhasilan batin merupakan penjaga keseimbangan seseorang, alat untuk lebih mampu menguasai diri dan pembantu untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri. TAK SEORANGPUN DAPAT BERSIKAP JUJUR KEPADA ORANG LAIN JIKA IA TIDAK JUJUR TERHADAP DIRINYA.
Hezron Tandungan, Papua Barat 2013
            Keberhasilan yang diakui masyarakat nilainya lebih rendah daripada keberhasilan yang dapat dirasakan di dalam batin sendiri, yang asalnya tentu saja dari pengenalan diri sendiri. Seseorang yang memiliki karakter luhur, jika ia harus meminta pertanggungjawaban dari orang lain, harus mulai dari dirinya sendiri. Keberhasilan batin adalah sumber kekuatan yang mutlak secara tetap, dan tidak tergantung pada faktor luar. Keberhasilan lahiriah berubah-ubah menurut keadaan, situasi, dan olehnya itu nilainya relatif.

C. Penyatuan Diri Dengan Alam Semesta
            Latihan karate mengenal jenis latihan yang disebut gashuku, yaitu latihan untuk menyatukan diri dengan alam. Karenanya, gashuku selalu dilaksanakan di alam terbuka seprti di sungai, pantai, dan lain-lain. Untuk apa seorang karate bergashuku? Untuk apa penyatuan diri dengan alam?
            Salah satu ketidakbahagiaan manusia, jika ia semata-mata menggantungkan diri pada keberhasilan lahiriah mengasingkan orang dari dirinya sendiri. Dan itu merupakan hal yang paling buruk yang dapat menimpa seseorang, sebab hal itu akan menyebabkan hilangnya cahaya hati nurani, dan akhirnya mau tidak mau akan membutakan hatinya sama sekali.
            Ketidakmampuan seseorang untuk melihat jalan di depannya akan mengakibatkan dirinya menjadi seorang tawanan di dalam dirinya, yang mana akan mengasingkan dirinya dari segala sesuatu yang ada di luar dunia “dirinya” yang sempit, dan oleh karena itu meninggalkan kesatuannya dengan umat manusia. Ia akan muncul sebagai makhluk egois.
           
Untuk memelihara keutuhan dirinya sebagai manusia, orang harus menjaga agar ia secara sadar tetap bersatu dengan segala yang ada. Tanpa adanya kesatuan seperti itu ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain keberhasilan sementara, atau bahkan kegagalan. Ia akan menjadi budak waktu serta ruang dan juga kehidupannya menjadi tidak riil sama sekali.
            Hanya dengan kesatuan terhadap masyarakat dan alam orang akan benar-benar hidup. Kesadarannya kemudian  akan dapat menjadi lebih luas sehingga akan dapat menjangkau seluruh alam semesta. Pribadinya dapat bergabung dengan pribadi-pribadi orang lain, baik dengan mengasihi mereka, atau berkorban untuk orang lain yang dikasihi. Orang demikian itu tidak akan dikuasai oleh ruang dan waktu, tetapi sebaliknya akan menguasai keduanya. Kita bisa melihat masyarakat yang orientasinya tertuju pada materi, mereka dewasa ini hidup seperti robot, dikuasai oleh ruang dan waktu. Bergelimang harta dan teknologi modern, tetapi tidak pernah menikmati kebahagiaan. Hidupnya selalu cemas, dan akhirnya mereka yang tak tahan, lari dari ruang dan waktunya dan mencoba lagi menyatukan apa yang hilang dari dirinya tersebut.

D. Tradisi Karate Dan Ide Kembali Ke Alam
            Setiap karateka selalu dilatih keras untuk dapat hidup secara alamiah, tidak tergantung pada alat-alat modern. Cara duduk harus berlutut dengan punggung tegak dan tidak duduk santai di sofa yang saat ini merupakan kegemaran generasi modern.

            Di dalam karate, terdapat tradisi ketat yang mewajibkan karatekanya duduk tegak dan berdiri serta berjalan tegak.  Di dalam karate, sebagiam besar otot tubuh digunakan untuk melakukan teknik-teknik karate. Rasa sakit dalam karate (sebagian telah dibahas sebelumnya) tidak akan dirasakan apa-apa, malah bisa kita nikmati apabila kita betul-betul mencintai karate itu.
            Bagi karateka sejati, dengan mengikuti secara ketat tradisi karate, setiap karateka telah hidup secara alamiah yang wajar dan tidak dibuat-buat.

Semoga bermanfaat, terima kasih.
--------------------------

Hezron Tandungan - Budoka, Praktisi Jalan Karate

Friday, 24 June 2011

KATA dalam Goju-Ryu Karate (I.K.G.A)



"Koko Hiza Kuzushi" (Sanseru & Kururunfa)


   
Fukyu Kata 普及型

Fukyu Kata (disebut juga Junbi Kata), yaitu kelompok Kata Persiapan dalam Goju. Semua jenis Kata dalam kelompok Junbi Kata ini berisikan gerakan-gerakan yang berpola 4 (empat) penjuru mata angin, dan penuh semangat tempur yang tinggi.

Kelompok Kata ini terdiri dari:

TAIKYOKU  太極

Kata Taikyoku diciptakan oleh Master Gogen Yamaguchi. Taikyoku secara harfiah berarti "pelajaran pertama" (first course), secara filosofi mengandung arti sebagai makro kosmos.

Kata Taikyoku, meliputi:

 
Taikyoku Jodan Dai Ichi 大極上段一
Taikyoku Jodan Dai Ni 大極上段二
Taikyoku Chudan Dai Ichi 大極中段一
Taikyoku Chudan Dai Ni 大極中段二
Taikyoku Gedan Dai Ichi 大極下段一
Taikyoku Gedan Dai Ni 大極下段二
Taikyoku Kake Uke Dai Ichi 大極掛受一
Taikyoku Kake Uke Dai Ni 大極掛受二
Taikyoku Mawashi Uke Dai Ichi 大極廻受一
Taikyoku Mawashi Uke Dai Ni 大極廻受二


 
GEIKISAI  撃砕

Kata ini diciptakan sekitar tahun 1940-an oleh Master Chojun Miyagi dan Shosin Nagamine sensei sebagai Kata pemula untuk memperkenalkan bentuk dasar karate (kihon) kepada siswa-siswa sekolah di Okinawa juga sebagai standardisasi dan landasan bersama dasar-dasar karate di Okinawa. Kata ini pun seringkali dibawakan dalam setiap perhelatan Hari Karate (Karate no hi) di tanggal 25 Oktober setiap tahunnya.
Perbedaan utama antara Geikisai dai ichi dengan dai ni adalah dai ni memperkenalkan teknik tangan terbuka (kaishu) dan sikap neko ashi dachi.
Geikisai secara harfiah berarti "menghancurkan" (to destroy).

Kata Geikisai meliputi:

Geikisai Dai Ichi 撃砕第一 (ゲキサイダイイチ)
Geikisai Dai Ni 撃砕第二 (ゲキサイダイニ)

 
Kihon Kata 基本型

Kihon Kata adalah kelompok Kata yang merupakan ciri khas Karate Goju yang melambangkan dua unsur kekuatan yang terkoordinasi dengan harmonis dalam satu kesatuan.

Kelompok Kata ini, terdiri dari:


Sanchin 三戦 (サンチン)

Sanchin diciptakan oleh Kanryo Higaonna, Guru Besar Nahate, dengan menggunakan teknik tangan terbuka (Kaishu). Master Chojun Miyagi kemudian memodifikasi menjadi gerakan tangan terkepal. Sanchin adalah simbol Go (keras) dari GoJu. Sanchin secara harfiah berarti "Tiga Perjuangan" (three battles). Yang dimaksud dengan Tiga Perjuangan itu adalah tiga unsur yang ada dalam diri manusia digolakkan untuk mencapai unifikasi; jiwa (soul), pikiran (mind), dan raga (body). Simbol tiga unsur dalam Sanchin (San, tiga; Chin, Perjuangan) juga merupakan simbol dalam tiga kandungan gerakan Kata Sanchin, yaitu Teknik Dasar (kihon), Gerakan Kaki (Ido). Jenis pernafasan yang digunakan dalam Kata Sanchin adalah pernafasan ibuki, yaitu dengan mengencangkan seluruh otot-otot tubuh, sementara dalam melakukan meditasi atau mokusho dilakukan dengan menggunakan jenis pernafasan yang lain yaitu okinaga yang dilakukan dengan merelakskan sekujur tubuh. Metode pernafasan okinaga disebut juga misogi.




 

Tensho 転掌 (テンショウ)


Secara harfiah, Tensho berarti "putaran atau libatan tangan" (flowing hands). Tensho dimodifikasi dari Kata Rokkhishu Shaolin Cina oleh Master Chojun Miyagi. Dalam gerakan Rokkhishu, dilakukan di tempat, tidak bergerak maju atau mundur, dan diubah oleh Miyahi menjadi bergerak maju mundur (mengarah tetap ke depan).
Berbeda dengan Sanchin, maka Tensho ini adalah simbol Ju (lunak) dari GoJu. Ketika memainkannya, bagian tangan kendur lemas, sedangkan bagian tubuh lain dikencangkan seluruh ototnya, terutama otot perut (tanden).
 



 

Kaishu Kata 開手型


Kaishu Kata adalah pengelompokan jenis Kata "buka tangan" (Kaishu).
Kelompok Kata ini terdiri dari:



Saifa 砕破 (サイファ)


Secara harfiah, Saifa berarti "menghancurkan" (destroy), dan "merobek" (tear). Diciptakan oleh Master Kanryo Higaonna dengan mengambil inspirasi dari salah satu Kata dalam Shaolin "bangau putih" Cina. Jadi Kata Saifa, termasuk kedalam kelompok Kata Bangau.
Kata Saifa ini termasuk jenis Kata yang tampak sederhana, tetapi cukup sulit untuk menguasainya. Saifa berisikan antara lain teknik-teknik melepaskan cekalan tangan. Saifa banyak menggunakan posisi tinggi (Musubi Dachi dan Re-Noji Dachi). Gerakan Kata Saifa adalah gerakan bertipe Tenshin. Kaishu kosa uke adalah gerakan menangkiskan kedua tangan sekaligus terdapat dalam Kata ini.




 

Seienchin 制引戦 (セイエンチン)


Secara harfiah, Seienchin berarti "gerakan diam" (silently marching), "menaklukkan", dan "gerakan menarik" (to pull), juga diartikan "mengendalikan" (to control).
Kata Seienchin merupakan Kata yang sepenuhnya berisikan teknik tangan (Te Waza), dan tidak menggunakan tendangan (Keri) sama sekali. Kuda-kuda (Dachi) yang paling banyak digunakan dalam Kata Seienchin ini adalah Shiko Dachi, Sanchin Dachi dan Neko Ashi Dachi. Pose kamae Yumihari (Yumibari) atau Hari Uke adalah ciri khas Kata ini. Kata Seienchin dikelompokkan kedalam kelompok Kata Macan. Seienchin paling sering digunakan dalam pertandingan Kata maupun demonstrasi.



 


Sanseiru 三十六手 (サンセイルー)


Sanseru, secara harfiah berarti "36". Simbol 36 itu merupakan hasil perkalian 6x6. Adapun 6 kelompok pertama mengandung arti 6 unsur, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan semangat. Sedangkan 6 kelompok kedua mengandung arti 6 unsur, yaitu warna, suara, selera, rasa, sentuhan dan keadilan.
Sanseru adalah Kata yang melatih banyak gerakan memutar (mawatte) ke-empat penjuru angin, dengan gerakan kombinasi teknik tangan dan kaki. Penggunaan tendangan cukup banyak dalam Sanseru, yaitu Mae Geri dan Kansetsu Geri.
Dalam Sanseru, terdapat teknik Koko Hiza Kuzushi seperti dalam Kata Kururunfa, yaitu menjatuhkan lawan dengan menekan dengan telapak tangan pada bagian lututnya. Kata Sanseru termasuk dalam kelompok Kata Naga. Gerakan Kansetsu Geri dianggap similar dengan cambukan ekor naga.
Kuda-kuda yang paling banyak digunakan dalam Kata Sanseru ini adalah Sanchin Dachi, kemudian Shiko Dachi berimbang dengan Zenkutsu Dachi.
Kata Sanseru diciptakan oleh Master Kanryo Higaonna.




Shisochin 四向戦 (シソーチン)

Sisochin secara harfiah berarti "pertarungan empat penjuru angin". Sisochin diciptakan oleh Master Kanryo Higaonna. Di tahun-tahun terakhir dari kehidupannya, Master Chojun Miyagi paling sering memainkan Kata Sisochin ini. Yang menonjol dari Sisochin adalah penggunaan teknik nukite atau yonhon nukite.






 


Seisan 十三手 (セイサン)


Seisan secara harfiah berarti "Tangan 13". Makna angka 13 itu adalah 8 unsur defensif dan 5 unsur ofensif. Angka 13 adalah angka utama di Cina yang dianggap mewakili angka keberuntungan dan angka kemakmuran.
Seisan menekankan pada teknik merenggut. Menggunakan teknik pertarungan jarak dekat, seperti teknik pukulan pendek dan tendangan ke arah bagian bawah. Seisan diciptakan oleh Master Kanryo Higaonna. Gerakan diawali dengan hinneri kaeshi sebagai pembuka.







Seipai 十八手 (セイパイ)


Seipai secara harfiah berarti "18". Angka 18 itu adalah hasil perkalian 6x3. Bilangan 6, menunjukkan 6 unsur yaitu warna, suara, rasa, cita, sentuhan dan keadilan, sedangkan bilangan 3 menunjukkan tiga unsur yaitu kebaikan, keburukan dan perdamaian.
Kata Seipai diciptakan oleh Master Kanryo Higaonna yang merupakan perpaduan antara gerakan lunak, teknik melingkar dan gerakan keras. Kata Seipai didominasi oleh penggunaa Shiko Dachi.





 

Kururunfa 久留頓破 (クルルンファー)


Kururunfa secara harfiah berarti Ku (panjang), Ru (pegangan), Run (dadakan) dan Fa (memecahkan). Juga diartikan "perdamaian abadi dan hentikan pengrusakan."
Kata ini merupakan hasil modifikasi Master Kanryo Higaonna dari Kata Shaolin Cina.
Kata Kururunfa ini merupakan Kata yang dimainkan untuk melatih banyak gerak-gerak tangan secara cepat. Sebagian besar teknik tangan dalam posisi tangan terbuka. Kururunfa benar-benar menunjukkan harmonisasi antara gerak Go (keras) dan gerak Ju (lunak).
Sabaki merupakan kunci penting dalam latihan Kata Kururunfa ini.
Ada tiga jenis gerak Sabaki dalam Kururunfa, yaitu:
a.bergerak ke samping
b.zig zag Sabaki
c.putaran pinggul
yang kesemuanya digerakkan dengan kecepatan yang tinggi dan gesit.
Dachi yang paling banyak digunakan dalam Kururunfa adalah Neko Ashi Dachi (8 kali), lalu Sanchin Dachi (7 kali). Kata ini juga berisikan gerakan membanting yang dinamai Gyaku Nage Waza.
Tehnik lain yang terdapat dalam Kata ini antara lain: kaiun note, yama uke, kaishu ryowan barai, koho osae, dan terdapat teknik yang sama dalam Kata Sanseiru yakni koko hiza kuzushi, dan lain lain.


Suparinpei 壱百零八 (スーパーリンペイ)


Suparumpei secara harfiah berarti "Tangan 108". Angka 108 ini bertalian dengan angka keramat dalam ajaran Budha yang meyakini adanya 108 'setan'. Itu satu pendapat. Tetapi pendapat lain menganggap angka 108 menunjukkan adanya 108 titik lemah dalam tubuh manusia (kyusho). Ada lagi yang berpendapat bahwa angka 108 menunjukkan 108 Master yang secara bersama-sama menciptakan Kata Suparumpei itu.
Yang paling masuk akal adalah bahwa angka 108 adalah merupakan hasil perkalian 36x3. Dan 36 adalah hasil perkalian 6x6. Angka 6 pertama berarti mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan semangat. Lalu 6 berikut berarti unsur warna, suara, rasa, cita, sentuhan dan keadilan. Adapun angka 3 adalah simbol dari masa lalu, kini dan masa depan. Kata Suparumpei merupakan hasil modifikasi Master Kanryo Higaonna dari Kata Shaolin Cina. Kata Suparumpei, adalah Kata yang terpanjang dalam Goju-Ryu. Konon, dulunya ada 3 jenis Kata Suparumpei yaitu, Suparumpei Jodan, Suparumpei Chudan dan Suparumpei Gedan. Nama lain dari Suparumpei adalah Pechurin.
Dulu Master Higaonna mengajarkan Suparumpei ini pada Master Chojun Miyagi sebagai Kata kedua setelah Sanchin. Tetapi dalam kurikulum Gojukai modern, Suparumpei ditempatkan terakhir dalam kelompok Kaishu Gata, mengingat gerakannya yang panjang sekali dan cukup rumit, diawali hinneri kaeshi sebagai pembuka gerakan.





Tokutei Kata 持定型

Tokutei Kata adalah kelompok Kata yang diperuntukkan untuk konsumsi level Master atau Shihan. Kelompok Kata ini berisi bentuk kekhasan bangau dan naga yang disimbolkan memiliki karakteristik yang sangat kuat; Bangau memancarkan kedamaian, keseimbangan dan kekuatan bathin, sedangkan Naga disisi lain memiliki kekuatan energi fisik yang besar, penuh kedinamisan, serta tekad yang kuat dan bijak.


Kelompok Kata ini terdiri dari:

 
Genkaku 玄鶴
Kata Gen diartikan sebagai mendalam, gelap, hitam, misterius, dan Kaku berarti bangau. Jadi Genkaku dapat diartikan dengan Bangau Misterius, Bagau Hitam, ataupun ataupun Keahlian Bangau. 
Kata Genkaku ini diciptakan oleh mendiang Gogen Yamaguchi sensei pada tahun 1978.
Gerakan-gerakan yang paling banyak digunakan dalam Genkaku ini adalah Kakuto, Nukite, Teisho dan Shuto. Kuda-kuda yang paling banyak digunakan adalah Neko Ashi Dachi, Shiko Dachi, Sagi Ashi Dachi.

Genkaku adalah Kata pertama dari Tokutei Kata berisikan teknik-teknik Goju yang dalam dan selaras; terdapat 44 teknik ofensif dan 44 defensif.

Chikaku 地鶴
Kata Chikaku diciptakan oleh  Gogen Yamaguchi  sensei pada tahun 1980-an. 
Arti Chikaku adalah, Chi yaitu bumi atau tanah, dan Kaku yang berarti bangau. Jadi Chikaku berarti Bangau Bumi.
Kata ini memperkaya prinsip-prinsip dasar Goju yang didalamnya berisikan 44 teknik defensif dan 33 ofensif. Ke-77 teknik tersebut dilakukan ke-8 arah penjuru.

Koryu 天龍
Ko berarti kuning dan Ryu berarti naga.
Dengan demikian Ko-ryu dapat diterjemahkan sebagai Naga Kuning. 
Diciptakan oleh Goshi Yamaguchi sensei.
Kata ini mengacu pada semangat Goju yang kuat dengan penuh sifat-sifat yang dilandasi kehormatan diri. KoRyu berisikan 99 teknik; 44 defensif dan 55 ofensif yang juga dilakukan ke arah 8 penjuru mata angin.

Tenryu 黃龍
Ten berarti udara, nirwana, surga, dewa dan Ryu berarti naga. 
Ten-ryu dengan demikian dapat diterjemahkan sebagai Naga Langit, Naga Suci atau Naga dari langit. Tenryu diciptakan oleh Goshi Yamaguchi sensei.
TenRyu digambarkan sebagai tujuan tertinggi dari Goju. Kata ini memiliki 66 teknik; 33 defensif dan 33 lainnya adalah ofensif. Kata TenRyu tidak mengikuti Kata Gojuryu klasik yang merujuk pada kekhasan Tai Chi Chuan dan Pakua Chang, namun menitikberatkan pada tamparan-tamparan teknik tangan terbuka (kaishu) dalam bentuk "kumade".


Semasa hidup master Gogen Yamaguchi, beliau sebenarnya "telah merancang" 8 Tokutei Kata; 4 Kata Bangau (Genkaku, Chikaku, Tenkaku, dan KoKaku) serta 4 Kata Naga (KoRyu, TenRyu, ChiRyu, dan GenRyu).

Sebagai bentuk sikap hormat kita terhadap Keluarga Yamaguchi, maka para praktisi beladiri tanpa terkecuali, terkhusus praktisi Gojukai IKGA dilarang keras dan diharapkan untuk TIDAK membuat konten-konten video apalagi memposting Kata dari setiap kelompok dari Tokutei Kata ini. Kata Kata ini adalah warisan Gogen sensei kepada generasinya meskipun Kata tersebut bisa juga dikonsumsi buat para praktisi dan guru  "ber-level" shihan. 
Hanshi Gogen Yamaguchi juga menetapkan bahwa Tokutei Kata lainnya haruslah ditemukan dan diramu oleh Keluarga Yamaguchi; kepada Saiko Shihan Goshi Yamaguchi hingga pada puteranya Shihan Gohei Yamaguchi atau pada turunan berikutnya di kemudian hari.
Selain karate, sang Kancho juga menguasai teknik permainan pedang beraliran Jigen yang merupakan aliran  terkenal dari Toshiaki Kinno, pendekar pedang legendaris yang memiliki kemampuan memotong dua buah semangka yang dilempar ke udara, dan mampu menyarungkan kembali pedangnya sebelum potongan semangka tersebut jatuh di tanah.

Grandmaster Gogen Yamaguchi digelari pula dengan sebutan Kensei, yang berarti pria yang tercerahkan, seorang tokoh karate yang memiliki visi yang sangat kuat dan dikenal sebagai seorang yang sangat bijaksana.
Kaicho Gogen sensei menjalani kehidupan yang sangat religius dengan pendalaman spiritual yang tinggi yang menggabungkan KarateDo dengan Shinto dan Yoga. 

Jadi apakah proses terciptanya Tokutei Kata ini sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur diatas hingga Tokutei Kata dikenal sebagai Kata yang penuh misteri dan berbau mistis..., hanya mendiang Gogen sensei dan mungkin hanya Keluarga Yamaguchi yang tahu...



Hezron Tandungan: "Ketika sikap hormat dan etika tidak terpelihara di Jalan Budo maka sebenarnya kita sedang berada pada dua persimpangan yang sama: tersesat..., ataukah hilang bentuk."

JALAN KARATE DAN PEMIKIRANNYA YANG SEDERHANA

Pada dasarnya Karate-Do merupakan latihan-latihan berat yang akan membawa seseorang dapat kembali ke alam dan pemikiran dimana ia sepert...